Impian Itu Adalah Setiap Anak Indonesia Kenal Komputer

Kemajuan teknologi selama ini sebagian besar hanya dinikmati oleh kalangan mampu, dan kalangan ini lah yang terus menerus mendorong perkembangan serta menkonsumsinya. Alat-alat elektronik yang menggunakan tekonologi mutakhir senantiasa tidak murah dan disajikan dalam kemasan mewah. Ketika suatu teknologi sudah semakin tua barulah harganya semakin terjangkau dan dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas. Jika demikian terus menerus, maka teknologi akan terus menjadi barang mewah dan sangat sulit menerapkannya ‘untuk kemajuan umat manusia’ –karena kebanyakan umat manusia tidak mampu membelinya.

Di negara dengan ketimpangan sosial yang relatif tajam seperti Indonesia, kesenjangan teknologi pun lebih terasa. Sebagian mahasiswa metropolitan kerap memeriksa surat elektronik melalui kotak ajaib seukuran telapak tangan, sementara rekan-rekan mereka di pedalaman masih belajar dengan lampu minyak. Memang, keadaan seperti itu banyak bergantung pada faktor ekonomi, tapi hal ini dapat dilangkahi dengan penerapan teknologi mutakhir yang merakyat.

“One laptop Per Child”

Sebuah kabar baik yang perlu didukung banyak pihak muncul di penghujung tahun lalu. Terlepas dari segala kritik tentang kapitalisme, konglomerasi, dan kejahatan korporat, inovasi yang telah dilahirkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi informasi kini memungkinkan pengembangan laptop atau komputer jinjing yang dapat dijual murah. Massachusetts Institute of Technology Media Lab memperkenalkan inisiatif “One laptop per Child” (OLPC) yang memproduksi laptop seharga seratus dollar Amerika dan distribusi nirlaba.

Meskipun murah, bukan berarti laptop tersebut ketinggalan zaman. Harga laptop di pasaran relatif tinggi bukan karena harga teknologinya semata, tetapi sekitar setengahnya adalah biaya distribusi dan pemasaran. Dua hal tersebut tidak relevan dalam pengembangan OLPC. Setengahnya lagi adalah harga tampilan monitor dan mesin komputer. Penggunaan sistem operasi Linux pada OLPC memungkinkannya untuk mengadopsi mesin komputer yang lebih stabil dan sederhana ketimbang sistem operasi lain yang memerlukan mesin komputer lebih rumit dengan performa yang setara.

Sesuai dengan peruntukannya, laptop ini dirancang supaya dapat “menghidupi dirinya sendiri”. Sumber tenaga laptop dapat diisi dengan memutar sebuah tuas kecil untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan. Ini berarti, perangkat dapat digunakan terus-menerus di tempat-tempat yang belum ada aliran listrik sekalipun.

Kesempatan untuk Anak-anak Indonesia

Dalam banyak publikasi internasional tentang OLPC, beberapa negara berkembang disebut-sebut sebagai calon pengguna yang potensial seperti Brazil, Cina, Mesir, dan Thailand. Indonesia hampir tidak pernah disebut secara eksklusif, padahal kita adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia yang memang sedang mengembangkan diri. Apakah inisiatif semacam OLPC ini terlalu khayal bagi Indonesia?

Puluhan juta pelajar Indonesia dari tingkat dasar sampai tinggi masih belum memiliki akses layak ke komputer. Banyak diantara mereka bahkan belum mengenal apa itu komputer apalagi aplikasinya. Padahal mereka inilah kunci kemajuan bangsa ini kelak. Apakah ketika mereka nanti menjadi petani akan menghitung cuaca dengan perasaan, atau merencanakan vegetasi dengan informasi musim dan iklim di tangan? Menjadi guru cucu-cicit kita dengan kapur atau animasi multimedia? Mengetik dengan kertas karbon atau mengirim email ke penjuru dunia? Banyak sekali hal lain yang dengan pengenalan komputer sejak dini dapat merubah sejarah kita nanti.

Indonesia memiliki banyak talenta di bidang elektronika, teknik, telematika, dan teknologi informasi. Lebih dari segelintir anak bangsa yang kemampuannya tidak kalah dengan insinyur-insinyur Silicon Valley atau Microsoft. Jadi, kita sebenarnya sudah punya modal intelektualnya. Banyak pula pekerja terampil yang sanggup merakit laptop dalam pacu yang tidak kalah dengan pabrik modern, apalagi jika dilengkapi peralatan yang memadai.

Modal dana untuk pengembangan dan pembangunan fasilitas tidak harus berasal dari negara, banyak konsorsium swasta yang lebih dari sanggup melakukan investasi. Hitung-hitungan bisnis sekalipun dapat dikelola supaya tetap berkesinambungan dan pada saat yang sama menjaga harga tetap rendah.

Realita yang Perlu Kita Hadapi Bersama

Indah memang memimpikan seandainya setiap murid sekolah dasar sampai perguruan tinggi di negara ini setidaknya pernah mengenyam pendidikan komputer –meskipun harus memutar tuas pembangkit listriknya dahulu. Tidak usah muluk, tidak perlu setiap murid memiliki laptop, tapi bisa dipakai bergantian.

Sayang beribu sayang, bicara tentang pendidikan di Indonesia tidak bisa lepas dari segudang tantangan lain. Tentu saja harus didahulukan kesejahteraan dan kualitas guru, infrastruktur gedung, pengadaan materi dasar belajar-mengajar, dan seterusnya. Anggaran pendidikan nasional saja yang sudah diamanatkan UUD ’45 sebesar 20 persen dari total APBN belum bisa dicapai. Itu semua memang tampaknya jauh lebih penting daripada inisiatif laptop tadi.

Celakanya, keadaan birokrasi carut-marut saat ini menghambat peran serta swasta. Departemen Pendidikan Nasional pernah didaulat sebagai departemen paling korup setelah Departemen Agama. Pengadaan buku pelajaran pernah pula diangkat beserta segala boroknya. Kalau buku saja sudah dijadikan “proyek”, apalagi laptop. Siapapun yang ingin mengembangkan inisiatif dimana harus melibatkan birokrasi pemerintah bisa jadi langsung urung menghadapinya.

Untuk memajukan bangsa ini kita perlu kerja keras bersama. Pemerintah jelas tidak akan mampu mengatasi semua persoalan negara. Sektor swasta yang menyimpan potensi dahsyat sebetulnya siap bergerak untuk kepentingan publik. Tinggal bagaimana saluran birokrasinya dibersihkan dari tikus-tikus got.

Rotterdam, 3 Februari 2006,
Michael C. Putrawenas

This entry was posted in Editorial, Indonesia. Bookmark the permalink. Comments are closed, but you can leave a trackback: Trackback URL.
  • MichaelPutra.com seal