Mengenang Seluruh Korban Teror

Terrorisme dan Komunikasi Kemanusiaan

Lima tahun sudah berlalu sejak hari Selasa kelabu tanggal 11 September 2001, namun ingatan publik tentang insiden berdarah yang terjadi masih sangat kental. Sejak saat itu konsep “terorisme” mulai merasuki pasar secara kodian dan diobral sebagai sebuah komoditas yang mengerikan. Masyarakat dunia pada saat itu seakan-akan baru sadar bahwa terorisme merupakan ancaman nyata dalam kehidupan sehari-hari di abad ke-21.

Padahal, jauh sebelum dan sesudah kejadian 9/11 sudah banyak aksi-aksi teror yang juga menelan banyak korban. Dari yang dramatis seperti pesawat Pan Am yang dibajak dan jatuh di Lockerbie, Skotlandia sampai teror di pedalaman hutan di selatan Filipina. Tanyakan juga kepada penduduk Bali, Baghdad, Beirut, Beslan, Istanbul, Kabul, Kolombo, London, Madrid, Mumbai, atau Munich –mereka pun menyimpan “cerita” tersendiri mengenai serangan teror. Penduduk di banyak pedesaan di Afrika dan Amerika Selatan bahkan mungkin sudah terbiasa dengan teror pasukan paramiliter dan terjebak di tengah konflik bersenjata –keadaan miris yang juga dikenal oleh saudara-saudara kita di Aceh.

Terorisme dan teroris merambah jauh lebih luas ketimbang hanya Al-Qaeda atau Bin Laden karena selama yang dilakukan adalah menyebarkan teror maka sebenarnya sudah bisa dikatakan teroris. Asosiasi terorisme dengan hanya menunjuk kepada kelompok-kelompok tertentu justru menyempitkan pemahaman akan konsep terorisme itu sendiri. Alat-alat negara pun bisa menjadi teroris sekalipun memiliki dasar hukum dengan jargon melindungi rakyat. Lebih berbahaya lagi jika terorisme digandengkan dengan agama, entah sebagai justifikasi atau kambing hitam.

Sama halnya dengan kasus-kasus kriminalitas, aksi-aksi teror pun memiliki motif. Adanya konflik adalah salah satu motif terorisme –konflik antara kelompok tertentu dengan kelompok lain atau dengan negara atau dengan tatanan yang ada. Banyak pakar mencoba menjelaskan sebab musabab konflik yang bisa menyebabkan aksi-aksi terorisme. Samuel Huntington merujuk kepada perbedaan peradaban yang menuju kepada pertentangan. Joseph Stiglitz menjelaskan bagaimana globalisasi yang keliru dapat membuat berbagai kalangan menjadi resah dan tertindas, sehingga menciptakan dorongan untuk “berontak”. Michael Klare lebih melihat perebutan sumber daya sebagai penyebab konflik. Itu semua merupakan produk intelektual, tapi sebetulnya hanyalah analisa makro di awang-awang.

Terorisme dan Kemanusiaan

Mungkin hal terpenting yang harus dilihat dalam rangkaian masalah terorisme tidak lain adalah manusianya sendiri. Para pelaku teror bukanlah setan, dan para korban juga bukan malaikat –mereka sama-sama manusia. Manusia yang lahir dan dibesarkan dengan kultur dan adat masing-masing, manusia yang juga pernah menjadi anak kecil yang polos, manusia yang memiliki keluarga dan kerabat. Manusia yang juga bisa sedih, marah, dan gembira. Manusia seperti saya dan Anda.

“Paradise Now”, sebuah film dari Palestina menggambarkan sisi kemanusiaan pelaku teror. Film tersebut menggarap proses dan latar belakang seseorang menjadi teroris dengan segala pergumulan batinnya sendiri. Sementara film “United 93″ yang baru dirilis Universal Studio berusaha menggugah penonton dengan memperlihatkan emosi para penumpang penerbangan United 93 yang dibajak pada 11 September 2001 dan jatuh di daerah rural Pennsylvania sebelum mencapai sasarannya. Sisi kemanusiaan para korban yang ketakutan dan pasrah tapi berusaha melawan sungguh menyayat hati. Terlebih saat adegan mereka menelepon orang-orang yang mereka kasihi dan sempat menyampaikan, “… our plane is hijacked, I will not come home, I love you.” Arus simpati kepada korban terorisme seakan tak terbendung dengan penggambaran adegan semacam itu dan pada saat yang sama kebencian kepada pelaku semakin menjadi-jadi. Seandainya sineas Afhanistan, Irak, Kuba, Sudan, atau Venezuela memiliki fasilitas dan distribusi seperti Hollywood, bisa dijamin potret dunia yang kita lihat akan jauh berbeda.

Peran Media Massa

Tanpa kita sadari peranan media dalam konstelasi penciptaan persepsi bagi aksi terorisme maupun penanggulangan terorisme menjadi sangat penting. Berbeda dengan zaman abad pertengahan, kini teroris ’cukup’ meledakkan satu pesawat, menculik satu orang, atau bahkan membuat ancaman untuk menyebarkan terornya ke dunia maka media massa akan menyebarkan berita dan pesan para teroris itu secara gratis! Prime-time pula! Hanya dalam waktu beberapa jam setiap orang yang menonton berita atau mendengar radio atau membaca koran akan sedikit-banyak ikut merasakan teror yang terjadi.

Aparat keamanan pun sekarang lebih mudah menjangkau publik dalam memberikan himbauan, peringatan, dan indikasi tingkat kewaspadaan. Foto-foto buron pelaku teror juga dengan mudah dapat disebarkan melalui berbagai media dengan teknologi yang canggih. Sayangnya, sejauh ini media terlihat jauh lebih efektif sebagai medium pencipta teror daripada anti-teror. Namun di lain pihak memang jauh lebih mudah mengukur ”keberhasilan” aksi terorisme daripada mengukur keberhasilan aksi anti-terorisme.

Disini para insan media perlu menyadari posisi yang krusial, jangan sampai media secara tidak sadar menjadikan para teroris ”selebritis”. Pemberitaan dan analisa harus berimbang dan tetap memihak kepada kemanusiaan dengan menyebarkan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat. Hindari mengisi kolom dengan melulu menakuti masyarakat atau foto-foto bersimpah darah tanpa melakukan analisa yang cukup, apalagi sampai terjebak ke jurnalisme sensasionalis belaka.

Media boleh saja menjadi bagian dari dunia korporasi yang tidak dapat menyangkal pentingnya perolehan laba, namun tetap memiliki tanggung jawab kemanusiaan sebagai bagian dari komunitas masyarakat. Ilmu manajemen modern saja mengenal konsep corporate social reponsibility dimana perusahaan dituntut menjalankan tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari strategi mereka. Nah, tanggung jawab sosial media yang paling utama tidak lain adalah menyediakan informasi yang merupakan dan mendidik publik –jelas bukan untuk menyebar teror.

London Terror Plot

Pertengahan Agustus lalu ketika otoritas Inggris berhasil menggagalkan plot untuk meledakkan sepuluh pesawat komersial. Pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada publik dikemas sedemikian rupa sehingga meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan chaos yang tidak perlu. Meskipun di bandara-bandara di Inggris terjadi pembatalan dan penundaan penerbangan besar-besaran, ditambah dengan pengamanan kabin yang ekstra ketat, tapi pada umumnya pengguna layanan penerbangan dapat memahami. Mereka menerima bahwa mereka harus menunggu berjam-jam dan mengepak ulang barang bawaan mereka sebagai tindakan pencegahan terorisme. Dalam sebuah wawancara, seorang penumpang di bandara Heathrow mengatakan, “…though it was a lot of extra hassle, most people understand that safety comes above convenience.” Mereka menyadari bahwa demi keselamatan kolektif, masing-masing individu terkadang perlu mengorbankan sedikit kenyamanannya. Sikap seperti itu tidak lepas dari peran media yang sebenarnya menyiapkan publik untuk waspada dan mendidik mereka akan pentingnya usaha kolektif tanpa menimbulkan efek paranoia yang berlebih –sebuah produk komunikasi yang elegan!

Terorisme tidak akan hilang dari peradaban manusia. Aksi-aksi teror akan terus terjadi sampai akhir zaman dalam sejuta bentuk. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencegah dan menghindarinya. Pola keamanan seketat apapun pada akhirnya bisa saja ditembus oleh mereka yang memang berniat jahat. Mesin x-ray secanggih apapun masih bisa ditipu dan polisi akan terus dalam pola pengejaran.

Dua senjata yang paling ampuh menanggulangi terorisme sebenarnya tidak mahal dan mudah sekali diperoleh yaitu otak dan nurani. Bentuk pengamanan yang lebih efektif adalah mengasah otak dan nurani masyarakat, dan ini bukan hanya tugas pemerintah, polisi, intel, pemuka agama, tapi cukup besar bagian dari tanggung jawab itu jatuh ke pundak media massa dan praktisi komunikasi. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai komunikator, dan terlebih lagi tanggung jawab kita sebagai manusia.

Jakarta & Rotterdam,

September 2006,
Magdalena Wenas
Michael C. Putrawenas

This entry was posted in Business & Society, Editorial and tagged , . Bookmark the permalink. Comments are closed, but you can leave a trackback: Trackback URL.
  • MichaelPutra.com seal