Perlukah Tsunami Berlanjut?

Pelajaran dan Pembelajaran dari Musibah Tsunami

Tidak perlu lagi digambarkan betapa pilunya penderitaan para korban gelombang tsunami di Asia selatan. Gambaran tragis pemicu iba detik demi detik mengudara di gelombang televisi dan radio. Yak, kita hanya bisa iba dan tergugah untuk memberi bantuan, tidak lebih. Simpati dari berbagai penjuru dunia mengalir deras, namun hanya segelintir yang sanggup ber-empati.

Lepas dari itu semua, di balik pertunjukkan Yang Maha Dahsyat tanpa bantuan efek dari piawai-piawai di Hollywood, dimulailah sebuah fenomena yang sungguh sangat indah dan menyentuh. Sekejap mata setelah jaringan media dunia meneruskan derita korban, bantuan dan pertolongan seakan mengikuti genderang perang.

Dari Jakarta sampai Amsterdam dan New York manusia berdasi mulai menyentilkan sedikit kelebihan mereka. Ada pula yang langsung sibuk mengkoordinasikan operasi kemanusiaan tingkat jagad. Para kuli tinta, kuli disket, dan kuli kamera berloncatan ke daerah yang dulu hanya dikenal dengan konflik antar manusia namun kini ketika alam ikut campur mereka diam seribu bahasa.

Semakin eksplisit dan pilu gambar yang mengudara, semakin hebat bantuan yang dikirim. Insan-insan dunia pun rela meninggalkan keluarga dan perayaan tahun baru untuk ikut arus penyelamatan. Dari dokter, insinyur, sampai jenderal dan menteri ikut menyelami lumpur sisa tsunami – sesuatu yang amat jarang, jikalau ada, dibayangkan ketika mereka mengejar profesi itu semua. Tapi hati sudah berbicara dan tugas memanggil.

Anak manusia dari segala bangsa dan golongan bercampur aduk membantu sesama. Warna-warni keringat berbaur menjadi satu membersihkan darah dan jasad. Tanah boleh bau menyengat, tetapi hati mereka wangi oleh rempah nurani.

Indah, sungguh indah jika kita menyadari dibalik adegan horor dan penderitaan pengungsi tercermin atmosfer ideal kemanusiaan dimana Hercules C-130 bukan dipakai untuk mengangkut mesiu tapi untuk memberi makan mulut kelaparan. Indahnya jika kapal perang tidak menembakkan rudal tapi merawat yang sakit.

Dunia dimana korporat tidak mengeksploitasi rakyat kecil tapi justru menghamburkan uang kepada mereka. Lebih indah lagi, saudara, ketika senapan Tamil Elam, GAM, dan para tentara tidak lagi membahana dan digantikan dengan sahutan SAR. Akhirnya dunia pun sepakat, Arab, Amerika, Cina, Jepang semua satu kata: bantu!

Harmoni. Secara kasar itulah yang terjadi ketika umat manusia sedang mengalami kesusahan maha dahsyat. Hanya ketika itu mereka sadar bahwa sesama mereka adalah sama. Hanya ketika itu mereka sadar bahwa konflik tiada guna. Hanya ketika itu mereka sadar betapa berharganya sebuah nyawa anak manusia.

Sayang, sungguh sayang apabila keharmonisan dan semangat tinggi saling bantu hanya terjadi tatkala musibah besar menimpa. Mungkin ini bukan hukuman, tapi justru peringatan. Dasar manusia memang keras kepala yang tidak mempan dengan peringatan ringan. Peringatan keras macam tsunami ini pun belum tentu bertahan lama.

Tinggal tunggu tanggal mainnya untuk kita ribut lagi masalah zona informasi kelautan, atau ricuh mengenai kedaulatan negara, kemudian tenggelam di arus kapitalis yang buta. Bisa jadi sebentar lagi proyek rehabilitasi akan digerogoti tikus birokrat dan musang korporat. Anggaran makanan dan obat-obatan nantinya akan menjelma menjadi mesiu. Itu semua untuk menyambut bencana apa lagi di masa depan, entah buatan kita sendiri entah alam ingin ikut bermain lagi… dan apabila bencana itu nanti ‘cukup’ besar, maka siklus harmonisasi akan dimulai lagi, dan seterusnya.

Sebegitu bodohkah kita? Setelah sekian millenia peradaban umat manusia di muka bumi, setelah mengalami pahit-manisnya hidup, setelah bermilyar-milyar konflik dengan pedang sampai nuklir atau sekedar goresan pena, kita masih akan terus kembali mengulanginya? Kenapa kita tidak bisa kembangkan semangat solidaritas nan harmonis untuk seterusnya dan untuk semuanya?

Setelah Aceh, Sri Lanka, dan India, masih ada jutaan anak di Afrika yang kelaparan, masih banyak orang miskin dan manula terlantar tersebar dimana-mana, dan juga bumi ini yang semakin lama semakin rusak. Apakah perlu sekian ratus ribu orang mati dalam sekejap lagi sampai kita bisa menyadari pentingnya perdamaian? Abad kemarin saja sudah dua perang besar kita alami, kini kita pun diperangi oleh alam yang tidak akan bisa kita kalahkan – masih belum jerakah manusia?

Apakah kita perlu bencana seperti tsunami ini berlanjut, supaya kita bisa terus hidup dalam keharmonisan kemanusiaan? Paling tidak kita akan dihancurkan oleh alam yang tiada bandingnya aripada dihancurkan oleh sesama manusia – mana yang lebih bodoh? Walahualam.

-Rotterdam, malam terakhir tahun 2004

This entry was posted in Editorial and tagged , , . Bookmark the permalink. Comments are closed, but you can leave a trackback: Trackback URL.
  • MichaelPutra.com seal